Provided by | wangontinoe: Diet Yo-Yo Bisa Menyebabkan Depresi wangontinoe: Diet Yo-Yo Bisa Menyebabkan Depresi | Gratis software Yamaha Keyboard Midi Dangdut koplo campursari style yamaha omb player streaming audio cctv live tv radio Facebook wangontinoe antivirus |

Diet Yo-Yo Bisa Menyebabkan Depresi


Oprah Winfrey, bertahun-tahun memerangi obesitas.
    Anda tentu telah melihat banyak contoh orang berhasil menurunkan berat badannya, namun dalam beberapa tahun kemudian telah kembali ke beratnya semula (bahkan mungkin lebih berat). Kirstie Alley, yang mengikuti program diet Jenny Craig, kembali menaikkan kembali sebesar 31 kg. Anda juga tahu bagaimana Oprah Winfrey berjuang habis-habisan melangsingkan tubuhnya.

Pengalaman mereka jelas membuat Anda stres. Jika perempuan paling berpengaruh di Amerika, yang selalu didampingi personal trainer dan private chef saja tak mampu melawan obesitas, bagaimana dengan Anda?

Menurut perkiraan, lebih dari 80 persen orang yang kehilangan berat badan akan kembali menaikkan berat badannya setelah dua tahun. Para peneliti University of California at Los Angeles menganalisa 31 studi mengenai diet jangka panjang. Mereka mendapati bahwa sekitar dua-pertiga orang yang berdiet akan membuat berat badannya naik lebih banyak lagi dalam empat atau lima tahun semenjak berhasil menurunkan beratnya.

Hal ini tentu membuat para dieter itu frustrasi. Bukan saja karena terbayang beratnya harus kembali menurunkan berat badan tersebut, tetapi juga karena ancaman kesehatannya. Siklus naik-turun-naik ini berpotensi menyebabkan tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, depresi, penyakit jantung, dan kanker.

Masalah emosional
Tak dipungkiri, pada orang yang berusaha menurunkan berat badan, akan terjadi fluktuasi kecil-kecilan. Hal ini normal saja. Yang tidak normal adalah jika terjadi peningkatan atau penurunan berat badan secara signifikan, setidaknya sekitar 4,5 kg atau lebih, dan terjadi berulang kali.

Diet yo-yo (istilah ini diperkenalkan Kelly Brownell, MD, direktur Rudd Center for Food Policy and Obesity di Yale University tahun 1980-an) juga diyakini sebagai hasil pola diet yang terlalu ketat. Studi yang dimuat di jurnal Obesity menyatakan, orang yang mengikuti diet (sangat) rendah kalori akan menaikkan kembali berat badannya, daripada yang menetapkan diet yang lebih sehat. Diet rendah kalori ini biasanya dilakukan oleh orang yang berharap segera mendapatkan hasilnya.

"Jika Anda kehilangan berat badan dengan mengonsumsi 1200 kalori sehari, begitu Anda menambah jumlah kalori menjadi 1300, saat itulah berat Anda kembali naik," kata Judith Beck, PhD, direktur Beck Institute of Cognitive Therapy, dan penulis The Beck Diet Solution.

Peningkatan dan penurunan berat badan secara drastis dan berulang kali dikhawatirkan dapat mengubah fisiologi Anda. Semakin banyak diet yang Anda lakukan, semakin sulit Anda menjadi kurus. Hal ini dikarenakan hormon lapar (ghrelin) meningkat, dan hormon kenyang (Leptin) berkurang, sehingga Anda merasa lebih lapar dan tak segera kenyang.

Bukti-bukti juga menunjukkan, diet yo-yo bukan sekadar masalah fisik, tetapi juga emosional. Studi yang dilakukan Brown University mendapati bahwa pelaku diet yang makan untuk mengatasi stres atau kesepian, atau hal-hal yang disebabkan faktor eksternal, akan cenderung kembali gemuk.

Menurut Beck, orang-orang yang gagal seperti ini tak pernah mempelajari apa yang diperlukan untuk mengubah perilaku dalam jangka panjang. "Mereka tak pernah diajarkan bagaimana memotivasi diri mereka setiap hari," katanya, "atau bagaimana merespons pikiran-pikiran negatif dan menyadari suatu kesalahan sebagai sesuatu yang terjadi sekali saja."

Ketika Anda menerapkan diet ketat, dan bobot Anda kembali dengan cepat, Anda akan kehilangan banyak otot dan mendapatkan banyak lemak, demikian menurut Keith Ayoob, MD, RD, profesor tamu di Albert Einstein College of Medicine. Karena otot membakar kalori 10 kali lebih banyak daripada yang dilakukan lemak, "Metabolisme Anda akan melambat, yang artinya akan lebih sulit untuk menghilangkan berat badan selanjutnya," papar Ayoob.

Saat berat badan terus naik dan turun, elastisitas kulit Anda berkurang, dan berat badan akan membebani arteri dan sistem rangka. Hal ini bisa membuat liver Anda "stres" karena tertutup lemak. Studi dalam jurnal Clinical Cardiology bahkan menemukan bahwa perempuan yang beratnya naik-turun lima kali atau lebih sepanjang hidupnya, secara perlahan akan merusak jantungnya.

sumber : female.kompas.com

0 komentar :


Poskan Komentar